Skip to main content

Tata Kelola Lingkungan

Dalam beberapa tahun terakhir, kami mendirikan Program Pelestarian Lingkungan dengan kebijakan untuk mendukung ekosistem dan menjaga keberlanjutan sumber daya alam. Mengingat bagaimana operasi kami berpusat pada pemanfaatan sumber daya alam, kami menerapkan prinsip-prinsip "Pertambangan Hijau" untuk sadar lingkungan, berhati-hati untuk meminimalkan gangguan terhadap keseimbangan dan fungsi alam di sekitar kita. Pada tahun 2019, kami menetapkan indikator keberhasilan program kami untuk melindungi dan melestarikan lingkungan hidup, menggunakannya sebagai panduan untuk mewujudkan tujuan program kami. Indikator-indikator ini, yang diperbarui pada tahun 2020, sebagaimana diilustrasikan di bawah ini

 

 

Perubahan iklim merupakan masalah yang dihadapi era ini. “Generasi sebelumnya tidak memiliki teknologi; generasi berikutnya tidak punya waktu, jadi tergantung kita untuk mengambil tanggung jawab ini dan membuat perubahan.

Operasi CITA terletak di daerah terpencil dan tidak ada akses listrik, oleh karena itu listrik dari generator menggunakan bahan bakar fosil terutama digunakan untuk fasilitas Mess dan washing plant”. CITA dalam penggunaan bahan bakar fosil untuk kendaraan truk dan alat barat (dozer dan ekskavator) dilakukan secara terkontrol dengan pencatatan atas penggunaan bahan bakar. Selain itu perusahaan memasang pembangkit listrik tenaga surya untuk mengurangi pemakaian bahan bakar fosil.

Reklamasi dan Penutupan Tambang adalah tanggung jawab CITA untuk membuat lingkungan sekitar  lebih baik dan bermanfaat buat masyarakat. Kami pastikan bahwa perusahaan meninggalkan lokasi  dalam kondisi  dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara berkelanjutan.

CITA telah menyiapkan rencana penutupan tambang dan reklamasi sejak  dini untuk memastikan secara teknis terlaksana dan keuangan mendukung sesuai target.

Kami telah mencapai kemajuan signifikan dalam  penataan lahan dan revegetasi. Untuk lokasi Sandai,  telah melakukan revegetasi seluas 174,73 ha dari  total 200,07 ha lahan terdegradasi. Sebagai perbandingan, kami juga telah melakukan revegetasi seluas 2.002,01 ha dari total 2.400,87 lahan terdegradasi di lokasi Air Upas.

Aktivitas pertambangan

Ada dua jenis utama limbah pertambangan di CITA;

  • Pertama  adalah hasil dari kegiatan penambangan yang disebut overburden (OB) atau batuan sisa. Aspek utama dalam menangani material ini adalah memastikan OB ditempatkan dengan benar, stabil secara geo-teknis, dan mengontrol air tambang. Bahan tambang bauksit tidak menimbulkan air asam tetapi perlu pengendalian untuk mengurangi total sedimen tersuspensi (TSS) dan logam terlarut. Mineout serta OB  ditutup dengan baik dengan menata kemiringan, penutupan tanah dan revegetasi (lihat bagian reklamasi)

  • Kedua adalah residu bauksit berupa lumpur pencuci bijih, dengan komposisi padatan sekitar 40% dari tonase bijih bauksit yang diolah,yaitu 10.000 hingga 30.000 ton/hari yang  dicampur dengan air sebanyak 40.000 m3/hari. Residu ini mengalir dan mengendap ke kolam sedimen yang direncanakan.  

 

Alumina Refinery

  • Residu bauksit dari proses pemurnian alumina diklasifikasikan sebagai limbah berbahaya karena aditif (terutama adanya sisa natrium hidroksida atau soda kaustik) yang meningkatkan pH (alkalinitas) dan dapat bersifat korosif. Limbah ini disebut sebagai lumpur merah atau redmud.

  • Fasilitas Penimbusan Limbah B3 Tipe Kelas II  yang dibuat untuk menampung lumpur merah dan abu batubara sebagai tempat pembuangan akhir yang aman dilengkapi drainase dan lapisan  geotekstil dan geomembran. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah memberikan izin pengoperasian penimbusan WHW di tahun 2016.

Proses Pencucian Bijih Bauksit

Air daur ulang (3R) yang digunakan di pabrik pencucian berasal dari serangkaian kolam sedimen sebagai sistem air melingkar (loop tertutup). Air luapan yang telah dipisahkan dan dibersihkan dari residu di kolam sedimen dikembalikan ke reservoir untuk digunakan kembali untuk mencuci. Hal ini untuk menghemat pemakaian air. Tambahan air yang dipompa dari sungai sebagai make up water terjadi terutama pada musim kemarau (penguapan lebih tinggi dari curah hujan).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penggunaan Air Pabrik Alumina

Pabrik Alumina memiliki konsumsi air tinggi untuk Processing Plant, pembangkit listrik dan penggunaan domestik. Sumber air berasal dari sungai dan penampungan air hujan. Reuse dan recycle diterapkandi WHW dengan memanfaatkan kembali air sisa proses yang di daur ulang di bagianFilter Press Plant dimana bagian padatannya berupa redmud di tempatkan di penimbusan berijin.